Tren Kekerasan Pelajar. Ternyata Para Pemegang Masa Depan Indonesia Tak Lebih dari Sekadar Preman!

shares |


Belakangan ini beredar video viral yang memperlihatkan penganiayaan terhadap pelajar SMP di Cirebon, Jawa Barat. Dalam video yang berdurasi 2 menit 12 detik tersebut nampak seorang anak laki-laki berseragam batik biru putih dan mengenakan celana biru khas SMP jadi bulan-bulanan beberapa siswa SMP dengan seragam yang berbeda.

Tanpa ragu-ragu beberapa pemuda itu pun memukul dan menendangi anak laki-laki berseragam batik putih biru tersebut. Tindakan penganiayaan yang terekam video ini kemudian ramai diperbincangkan di media sosial dan membuat netizen geram. Korban yang dianiaya dalam posisi terduduk tidak kuasa melawan dan hanya menutupi kepala dengan kedua tangannya.

Pihak Almamater SMP di Cirebon sudah membenarkan video tersebut

Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan SMPN 1 Suranenggala Cirebon pun sudah membenarkan bahwa penganiayaan tersebut dilakukan oleh siswanya terhadap pelajar dari SMPN 3 Gunungjati Cirebon. Bahkan bukan hanya kepada salah satu pelajar SMPN 3 Gunungjati saja, beberapa pelajar dari SMPN 1 Suranenggala kemudian menyasar sekelompok pelajar yang ketika kejadian tersebut ikut menonton di sekitar tempat kejadian.

Pelajar yang merekam video tersebut sebenarnya berniat melerai

Berawal dari pelajar SMPN 1 Suraneggala berinisial BI yang merekam penganiayaan dan dilakukan oleh kawan-kawannya, setelah diunggah ke youtube video tersebut kemudian menjadi viral. Meskipun video tersebut saat ini sudah dihapus dari pelajar yang berinisial BI, namun netizen banyak yang sudah mengunggah ulang. Bahkan dalam rekaman tersebut BI, nampak mencegah dan menyuruh teman-temannya untuk menghentikan penganiayaan. Namun tidak ada yang menghiraukannya. Penganiayaan tersebut kemudian dihentikan karena ada teriakan seorang wanita dan korban yang sudah menangis sambil berlari kesakitan.

Ini permasalahan yang nggak kecil. Indonesia adalah negara yang harus mulai belajar mengendalikan rage sejak dini!

Kejadian ini sebenarnya bermula ketika sekelompok siswa SMPN 1 Suranenggala menuduhkan permasalahan kepada siswa SMPN 3 Gunungjati. Pelajar dari SMPN 3 Gunungjati sempat memberikan penjelasan dan argumennya namun belum selesai berkata salah seorang menendang wajahnya. Aksi kekerasan yang dilakukan beberapa pelajar dari SMPN 1 Suranenggala Cirebon saat ini sudah ditindaklanjuti oleh pihak sekolah. Menurut pengakuan dari Kepala Sekolah, saat ini kondisi sudah stabil dan kedua pihak yang berseteru sudah berdamai.

Satu-satunya kata dalam bahasa Indonesia yang masuk ke dalam kamus bahasa Inggris adalah “amuk”. Kata ini memiliki makna sebagai rage atau amarah yang berlebihan. Meskipun jelas sekali bahwa ini adalah cara pandang kolonialis yang menyepelekan negara jajahan seperti Indonesia, namun nyatanya orang Indonesia saat ini memang lebih mengedepankan otot daripada otak.

Para orang tua harus memberikan waktu lebih untuk mengajarkan anaknya mencintai, bukan membenci!

Yang menjadi masalah terbesar di Indonesia saat ini adalah para orang tua, dalam beberapa okasi, justru mengajari anak-anaknya untuk begitu benci kepada orang lain. Banyak orang tua Indonesia yang tidak menyadari pentingnya pengajaran budi sejak dini dan penanaman arti penting pendidikan pada anak-anaknya. Saat ini mayoritas anak-anak bersekolah hanya karena mencari teman dan tidak benar-benar memahami pentingnya pendidikan. Dan, satu lagi yang lebih penting, orang Indonesia menjalani pendidikan hanya untuk meningkatkan status ekonomi dan lupa bahwa pendidikan sejatinya adalah demi peningkatan pengendalian diri dan kecerdasan.

Budaya kekerasan harus segera dihilangkan di Indonesia. Kalau tidak, berarti benar kata para penjajah zaman dahulu, ternyata kita adalah bangsa yang bisanya hanya ngamuk dan melakukan kekerasan. Nggak bisa apa-apa selain marah!

Sumber; http://www.hipwee.com/hiburan/cowok/soal-penganiayaan-pelajar-smp-di-cirebon-mau-jadi-apa-generasi-penerus-kita-kalau-begini/
loading...

Related Posts

0 comments:

Post a Comment