Rage Room, Cara Baru untuk Marah-marah yang Keras, Sadis, Brutal, Tapi Tak Melukai Siapa-siapa

shares |


Amarah memang bisa menjadi pedang bermata dua. Ditahan, yang ada malah kita yang sakit sendiri. Stres dan tekanan yang nggak bisa dikeluarkan jelas-jelas membawa dampak buruk untuk kesehatan. Tapi melampiaskan kemarahan pun tak bisa bebas. Marah-marah di media sosial bisa memicu ‘twitwar‘. Marah-marah dengan kekerasan di kehidupan nyata bisa berujung penjara. Hmm, susah juga ya.

Tapi di Rusia sedikit berbeda. Ada fasilitas yang disediakan untuk kamu “marah-marah”. Mau banting-banting piring, menghancurkan komputer, lempar botol, dan memaki-maki sesukamu tak akan ada yang melaporkan ke pihak berwajib. Namanya rage-room, tempat orang melampiaskan amarah dengan bebas. Seperti apa mekanismenya? Kayaknya kita di Indonesia juga perlu fasilitas seperti ini untuk meluapkan amarah deh. Biar nggak pada berantem di medos ataupun tawuran di jalanan…

Pertama-tama, yuk cek videonya!

Rage-room adalah ruangan untuk melampiaskan amarah. Dilengkapi dengan barang-barang yang bisa kamu luluh-lantakan

Dalam fasilitas Rage-room, kamu akan ditempatkan dalam satu ruangan. Mungkin seukuran dengan kamar kos standar mahasiswa. Di sana ada berbagai barang. Mulai dari botol minuman, komputer, gelas, piring, sampai mesin ketik. Kamu juga akan diberi sebuah ‘senjata’, bisa berupa tongkat kayu, tongkat baseball, atau bahkan tongkat golf. Selanjutnya kamu diberi waktu untuk menghancurkan barang-barang yang ada di sana. Tentu saja kamu diberi pakaian aman yang mirip-mirip dengan astronot, supaya kamu nggak melukai diri sendiri saat “marah-marah”.

Intinya adalah memindahkan amarah di hati ke aktivitas fisik. Dengan begitu “nyesek”nya hati akan terobati. Nyatanya banyak yang mengaku merasa terbantu dengan hal ini

Apapun alasan marahnya, menonjok orang ataupun menghancurkan barang orang lain akan dianggap perbuatan pidana. Karena itulah rage-room tercipta. Konsep yang diterapkan pun sederhana, yaitu “terapi menghancurkan”. Rage-room adalah sebuah tempat bagi orang yang sedang panas hatinya untuk melampiaskan amarah dengan cara yang aman dan nggak melukai siapa pun. Marah-marah di rage-room bisa membantu meringankan beban dalam hati. Banyak yang sudah memakai fasilitas ini, dan merasa lebih lega sekaligus rileks setelah menghancurkan barang-barang di ruangan.

Rage room di Rusia ini bukan yang pertama. Amerika sudah terlebih dahulu punya “Anger Room” yang kira-kira tujuannya sama

Di Amerika Serikat, Anger-room sudah muncul sejak tahun 2008. Diawali oleh seorang pebisnis cewek, Donna Alexander membuka rumahnya di Dallas sebagai tempat menghancurkan barang-barang. Tahun 2011, Donna resign dari pekerjaannya sebagai manajer marketing di sebuah restoran dan memutuskan untuk membuka bisnis Anger-room secara resmi. Uniknya bisnis ini berjaya bersamaan selama masa pemilu Amerika. Customer datang dan menuliskan nama kandidat pada sebuah piring kemudian menghancurkannya. Ada juga manekin berbentuk Hillary Clinton dan Donald Trump yang siap dijadikan sasaran kebencian. Wah, penasaran nggak siapa yang lebih banyak jadi sasaran?

Meski harganya lumayan mahal, tempat ini tak pernah sepi pengunjung lho. Mungkin banyak orang sekarang memang butuh pelampiasan

Menghancurkan barang-barang di sebuah ruangan tentu biayanya nggak murah. Coba saja di luar ruangan, maka kamu akan dituntut ganti rugi jutaan. Di Amerika Serikat, untuk 5 menit waktu menghancurkan tarifnya 25 USD atau sekitar Rp340 ribu. Kalau request barang spesifik yang ingin dihancurkan, biayanya bisa naik mencapai 500 USD atau sekitar Rp6,7 juta. Di Inggris, tarif terendah sebuah rage-room adalah 20 Poundsterling alias Rp340ribu. Bagai tempat karaokean, ada banyak pilihan fasilitas mulai dari yang standar hingga yang deluxe! Di Rusia, tarif rage-room antara Rp1,7 – 6 juta untuk satu paketnya. Mahal memang. Anehnya, yang mau tetap saja banyak lho.

Meski meredam stres dan bikin lebih lega, para ahli menganggap rage-room bukan solusi marah yang tepat. Sebab bagaimanapun juga emosi harus bisa dimanajemen sendiri

Sekilas rage-room dan anger-room memang sangat menyenangkan. Membuat amarah berkurang, dengan begitu membebaskan diri dari stres yang mengungkung. Tapi apakah secara kesehatan ini sudah benar? Ternyata nggak juga. Banyak ahli kesehatan dan psikolog yang meragukan efektifitas “marah-marah” untuk meredam emosi.

Selain energi yang dikeluarkan saat “marah-marah” bisa berdampak buruk bagi kesehatan, rage-room didesain untuk meluapkan emosi, padahal yang perlu dilakukan adalah memanajemen emosi. Sekali dua kali mungkin memang menyenangkan. Tapi marah-marah di rage-room tentu tak bisa dijadikan kebiasaan. Seram kan kalau telanjur terbiasa, tapi di satu waktu tak punya dana untuk menyewa rage-room?

Meskipun begitu, rage-room nampaknya sudah jadi tren masa kini. Bidang ini jadi lahan baru bagi pebisnis dan sudah menjamur di berbagai negara

Tak bisa disangkal bahwa apa yang bisa kita lakukan di rage-room bisa sangat menyenangkan dan mengurangi beban pikiran. Mungkin sesekali kita perlu tempat untuk melampiaskan emosi. Untuk melepaskan segala beban diri. Untuk melakukan hal-hal yang tak mungkin benar-benar kita lakukan dalam kehidupan sosial yang rumit ini. Barangkali karena manfaat itulah, bisnis ini disambut baik oleh konsumen. Berawal dari Dallas Amerika, bisnis serupa sudah menyebar di berbagai negara seperti Inggris, Rusia, dan Australia. Apakah Indonesia juga akan punya yang seperti ini? Entah, kita tunggu saja.

Meski efektifitas secara ilmiah masih dipertanyakan, rage-room jelas bisa membantu proses relaksasi diri. Dan bisa membantu kita untuk melepaskan tekanan yang menghimpir diri. Barangkali rage-room bisa dikategorikan sebagai game relaksasi semacam paintball. Nggak menyelesaikan persoalan, tapi lumayan untuk hiburan. Kalau hati senang dan bebas dari stres, nggak akan mudah marah juga kan?

Nah, kalau menurutmu, kita perlu punya yang seperti ini nggak sih?

Sumber; http://www.hipwee.com/feature/wah-ini-bisa-jadi-solusi-biar-pada-nggak-tawuran-melulu-lihat-deh-tren-kekinian-baru-rage-room/
loading...

Related Posts

0 comments:

Post a Comment