Inilah Petugas Penyelamat Bunuh Diri di Korea Selatan, Sigap Atasi yang Buta Mata Karena Putus Asa

shares |


Korea Selatan, negara asal K-pop yang banyak dielu-elukan para fansnya, ternyata menyimpan masalah terpendam. Selain merupakan negara dengan tingkat perekonomian dan kesejahteraan tinggi, ironisnya Korea Selatan juga menduduki peringkat tertinggi dalam kasus kematian yang disebabkan oleh bunuh diri. Artinya ya meski sejahtera, banyak warga Korea Selatan yang merasa tidak bahagia sampai memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Seperti yang dilansir dari laman Jakarta Post, diperkirakan tiap harinya ada sekitar 40 orang yang mengalami bunuh diri. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di antara negara-negara maju Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Ini juga bukan fenomena baru karena Korea Selatan selalu memuncaki survei tersebut selama delapan tahun berturut-turut.

Mirisnya, korban bunuh diri didominasi oleh kalangan berpendidikan dan mereka yang punya popularitas tinggi. Penyebabnya mulai dari depresi, kalah persaingan hingga tekanan popularitas

Sementara banyak kasus bunuh diri yang kaum papa didorong masalah himpitan ekonomi, lain halnya dengan penyebab kasus bunuh diri yang marak dilakukan di Negeri Ginseng ini. Kasus bunuh diri di Korea Selatan justru dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan, punya jabatan tinggi, serta mereka yang popularitasnya sedang meroket. Termasuk juga para artis dan idola K-pop.

Faktor budaya Han, yakni bersikap diam dan berusaha tabah walau dalam keadaan marah menjadi salah satu pemicunya. Kehidupan selebritas yang sangat lekat dengan urusan pencitraan membuat konsep Han jadi amat berat dilakukan. Terutama jika mereka sedang menghadapi situasi yang buruk. Tuntutan orang Korea yang cenderung membentuk identitas mereka sesuai pandangan orang lain terhadap dirinya pun turut menjadi penyebabnya. Sehingga, mereka yang merasa hancur harga dirinya atau sudah nggak sanggup lagi menanggung beban kehidupan sosial akan melakukan bunuh diri.
Saking maraknya, bahkan ada yang dilakukan dengan menulis perjanjian untuk melakukan bunuh diri melalui internet. Ada juga yang membuat jaringan kelompok untuk melakukan bunuh diri secara bersama-sama. Duh, serem, ya!

Beruntung, belakangan pemerintahnya menggalakkan berbagai upaya & kebijakan untuk mencegah bunuh diri. Seperti pasukan khusus Suicide Watch ini

Sejarah telah membuktikan bahwa Korea Selatan merupakan salah satu negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia. Guna menanggulangi hal tersebut, pemerintah Korea Selatan telah membentuk satuan khusus untuk menyelamatkan korban dari percobaan bunuh diri yang akan dilakukannya. Tepatnya, menggagalkan.

Dilansir dari laman Vice, satuan khusus yang diberi nama Suicide Watch ini bertugas mencegah atau secepat mungkin menyelamatkan mereka yang telah melakukan aksi bunuh diri. Salah satu yang terkenal adalah Tim Pelayanan Darurat Air yang telah eksis sejak tahun 2015 silam. Mereka berhasil menggagalkan sebanyak 70% tindakan bunuh diri yang akan dilakukan dengan melompat ke Sungai Han, salah satu tempat favorit orang-orang depresi untuk melakukan aksi bunuh diri. Tim ini berpatroli secara rutin di sungai dan jembatan Mapo untuk bisa menggagalkan aksi bunuh diri sedini mungkin.

Jembatan Mapo yang dulu identik sebagai tempat bunuh diri, sekarang diubah image-nya jadi ‘jembatan kehidupan’. Tiap jengkal jembatan ini dipasangi berbagai pesan penyemangat bagi mereka yang membutuhkan

Menurut keterangan dari Kapten Hyung-Geun Suh, pemimpin dari Tim Pelayanan Darurat Air, tiap harinya jembatan Mapo selalu diawasi oleh pekerja sosial yang juga ikut membantu upaya pencegahan bunuh diri di Sungai Han. Sedangkan Kapten Hyung dan anggota timnya berjaga-jaga di bawah jembatan, di sepanjang jembatan Mapo sekarang telah dipasangi berbagai metode pencegahan bunuh diri. Dari CCTV, alarm darurat, sampai boks telepon hotline bagi mereka yang butuh konseling.

Tak ketinggalan, di sisi-sisi jembatan juga telah tertempel beberapa gambar orang-orang tersenyum, keluarga bahagia, dan gambaran menyenangkan lainnya. Pun tertulis beberapa kalimat sapaan dan pertanyaan seperti, “Apa kabar?“, “Sudah makan?” yang tersusun menjadi pertanyaan panjang jika diikuti hingga ujung jembatan. Hal inilah yang akan mengalihkan niat bunuh diri untuk berpikir ke hal-hal lain yang lebih positif. Ke semuanya ini telah diatur agar dapat menyala dalam gelap dan tetap bisa terlihat saat malam hari.

Tak hanya Suicide Watch, petugas pemadam kebakaran juga bisa difungsikan sebagai tim penyelamat bunuh diri di Korea Selatan

Cara untuk melakukan bunuh diri nggak hanya terbatas pada melompat ke sungai yang dalam dari atas jembatan saja. Terjun dari bangunan tinggi juga kerap dilakukan oleh banyak korban uang ingin mengakhiri hidupnya. Nah, jika Tim Pelayanan Darurat Air memfokuskan diri untuk menyelamatkan korban bunuh diri yang berusahan menceburkan diri di sungai Han, lain halnya dengan upaya penyelamatan yang dilakukan dari atas gedung tinggi.

Memang belum ada tim khusus untuk kasus ini, namun Hipwee mendapatkan informasi dari media sosial bahwa tim pemadam kebakaran Korea Selatan pernah melakukan aksi penyelamatan dengan kasus korban ingin melompat dari gedung tinggi. Tampak dalam video yang berdurasi kurang dari 5 menit tersebut, salah satu petugas pemadam kebakaran dibantu oleh salah seorang rekannya berhasil menggagalkan upaya bunuh diri yang akan dilakukan oleh seorang wanita dari atas gedung apartemen.

Meskipun cara yang dilakukan cukup ekstrim, yakni dengan menendang tubuh wanita dari arah depan agar wanita tersebut kembali masuk ke dalam apartemen, tindakan pemadam kebakaran ini patut diapresiasi. Mengingat banyaknya orang yang hilang akal di Korea Selatan di mana ia ingin segera mengakhiri hidupnya dengan cara yang memprihatinkan.

Kasus bunuh diri yang telah menjadi tren di Korea Selatan agaknya bisa kita cermati dan jadikan pelajaran. Pertumbuhan ekonomi yang pesat telah mengubah pandangan warganya soal kehidupan. Sistem nilai budaya dan spiritual terpaksa menghilang akibat dunianya yang terlalu materialistis berorientasi pada pencapaian prestasi. Perubahan struktur keluarga juga bisa jadi faktor lain. ika sebelumnya hubungan keluarga sangat dekat, saling menolong dan tergantung satu sama lain, kini mereka lebih independen, dan cenderung melupakan dan tak lagi mendukung anggota keluarganya.

Bukankah hal semacam ini menjadi tamparan bagi kita untuk tidak mengesampingkan hal-hal yang bersifat spiritual? Untuk selalu ingat akan jati diri kita sebagai manusia sosial? Sehingga saat kita tidak lupa diri saat sedang menghadapi permasalahan yang begitu berat terjadi dalam hidup kita. Semoga maraknya kasus bunuh diri di Korea Selatan nggak kamu jadikan sebagai tren juga, ya!

Sumber; http://www.hipwee.com/feature/perangi-tingginya-bunuh-diri-korsel-pakai-cara-revolusioner-tim-suicide-watch-ini-keren-banget/
loading...

Related Posts

0 comments:

Post a Comment