6 Cara Ekstrem Jepang Memaksa Warganya Pulang Kerja Lebih Cepat. Sampai Ada BH Khusus Segala

shares |


Sudah banyak berita yang tersebar seputar kematian karyawan di Jepang yang diakibatkan oleh terlalu lama bekerja lembur. Kasus terbesar adalah saat pegawai Dentsu bunuh diri karena lelah dengan pekerjaannya di tahun lalu. Sejak itu dunia jadi paham bahwa Jepang punya budaya kerja yang menyiksa karyawannya.

Survei terbaru tahun 2015 silam saja mencatat ada 1,456 kasus karyawan meninggal yang berhubungan dengan kebanyakan lembur karena pekerjaan. Saking sering dan membudayanya, bahkan fenomena ini ada istilahnya sendiri; karoshi. Baru setelah melihat tingginya angka karoshi ini, pemerintah Jepang mulai serius menggarap berbagai kebijakan dan langkah-langkah untuk mengatasinya.

Realitanya sungguh mencengangkan. Berbeda dengan orang kebanyakan yang mungkin kegirangan jika disuruh pulang cepat atau ambil cuti lebih banyak, warga Jepang justru keukeuh kerja lembur. Lihat deh rangkuman Hipwee News & Feature akan cara-cara ekstrem yang sampai harus digunakan untuk memaksa orang Jepang pulang kerja lebih awal ini! Saking ekstrem dan kreatifnya, sampai bikin ngakak.

Friday Premium jadi program penting dari pemerintah Jepang. Tiap hari Jum’at di akhir bulan, karyawan pulangnya lebih awal!

Program ini mulai resmi diterapkan di Jepang sejak Februari 2017 kemarin. Dengan melihat jam kerja karyawan di Jepang yang dinilai gila-gilaan, Friday Premium diharapkan bisa mengurangi beban para karyawan. Pada Jum’at terakhir di tiap bulan, karyawan diperbolehkan pulang jam 15.00 dan bersenang-senang. Kalau ini ada di Indonesia, kalian pasti suka!

Ada juga perusahaan yang rela ngasi insentif biar karyawannya mau pulang cepet. Ini cara yang ditempuh perusahaan Sunny Side Up

Nah untuk mendorong agar karyawan mau menjalankan program Friday Premium dari pemerintah, salah satu perusahaan bernama Sunny Side Up ini punya cara yang persuasif banget. Nggak tanggung-tanggung, mereka akan memberi insentif sebesar Rp400 ribu bagi karyawannya yang mau pulang cepet di Juma’at terakhir tiap bulan. Menarik nggak tuh?

Dentsu menerapkan cara ‘matikan lampu setelah jam kerja’ agar karyawan tak ada yang lembur. Lumayan efektif kok ini

Ada juga perusahaan yang menerapkan aturan light off setelah jam kerja. Tujuannya ya agar karyawan tak ada yang lembur setelah jam kerja usai. Nah salah satu yang menerapkan aturan ini adalah perusahaan advertising Dentsu. Itu loh, perusahaan yang karyawannya bunuh diri karena overworked sampai CEO-nya mundur. Nah menurut Dentsu, cara ini lumayan ampuh membantu menurunkan angka karyawan yang lembur.

Pemerintah juga punya wacana menyuruh karyawan mengambil minimal 70% jatah cutinya. Meski terdengar bagus, ternyata penerapannya sulit

Karyawan di Jepang terbilang sangat jarang mengambil jatah cutinya. Tercatat kurang dari 50% jatah cuti tahunan karyawan digunakan pada 2013 silam. Nah perlahan namun pasti, pemerintah memiliki wacana untuk meminta karyawan mengambil setidaknya 70% jatah cutinya. Jika sesuai target, maka hal ini akan terealisasi pada 2020 nanti.

Yang unik, perusahaan ini memutar lagi ‘Gonna Fly Now‘ sebagai alarm jam pulang. Meniru konsep di film Rocky!

Nah ada juga perusahaan yang menggunakan lagu kebangsaan film ‘Rocky’ sebagai alarm jam pulangnya. Mitsui Home Co memutar ‘Gonna Fly Now‘ saat jam menunjukkan pukul 18.00 sebagai alarm bahwa karyawan boleh pulang dan meninggalkan pekerjaannya. Kaya anak SD ya alarm pulangnya pakai lagu. Hehe

Bahkan sampai ada perusahaan yang bikin pakaian dalam khusus yang dilengkapi dengan alarm. Tujuannya?! Ya supaya para karyawan ingat jam pulang

Salah satu bukti bahwa overworked adalah masalah serius di Jepang adalah tercipta beha alarm ini. Perusahaan pakaian dalam ternama Triumph ini yang jadi pelopornya. Mereka menciptakan sebuah pakaian dalam yang akan mengeluarkan suara alarm saat waktu menunjukkan pukul 15.00 di Friday Premium. Meskipun banyak yang bilang bra ini agak nggak guna, tapi lumayan kreatif ya…

Sayangnya, meski dengan banyaknya cara yang diterapkan di Jepang, partisipasi karyawan untuk pulang tepat waktu masih sedikit. Pulang “teng-go” itu bukan budaya Jepang! Dari hierarki kantor yang sangat kuat sampai bikin para junior segan balik kalau seniornya belum pulang, sampai budaya minum-minum after hour yang sulit dihilangkan. Jadi memang sulit sekali meminta karyawan di Jepang buat pulang tepat waktu. Soalnya bukan masalah birokrasi aja, tapi juga budaya. Kalau di Indonesia sih, kayaknya nggak perlu cara ini juga udah balik duluan kalau bisa…

Sumber; http://www.hipwee.com/feature/6-cara-ekstrem-jepang-memaksa-warganya-pulang-kerja-lebih-cepat-sampai-ada-bh-khusus-segala/
loading...

Related Posts

0 comments:

Post a Comment