Menerawang Kota Jogjakarta di Tahun 2045. Seperti Apa Perubahan Wajahnya?

shares |

loading...
loading...

Jogja tercipta dari rindu, pulang dan angkringan.

Begitu pujian Joko Pinurbo tentang Jogja. Tak berlebihan memang, apalagi jika dikaitkan dengan tagline Jogja Berhati Mantan. Mantan selalu bikin rindu dan ingin pulang balikan bukan? Apalagi kalau mantannya suka ngajakin ke angkringan. Beuh, lengkap sudah…

Sayang julukan yang benar adalah, Jogja Berhati Nyaman. Ya benar, tapi cuma buat sebagian kalangan. Kini Jogja Berhenti Nyaman.

Setelah puluhan tahun, aku kembali ke Jogja lagi. Sudah hampir 30 tahun sejak aku pergi dari kota ini sejak lulus kuliah. Meskipun begitu, nafas kota romantis ini masih bersemayam dalam dada. Semoga kali ini pun sama.

Jogjakarta 2045, aku turun di Stasiun Tugu yang senantiasa menyiratkan kerinduan tak tertahan. Entah bagi si pengantar maupun yang meninggalkan, mereka sama-sama kehilangan…

Dahulu, stasiun ini begitu syahdu dan angkuh. Lengkap dengan tugu kereta kecil di sisi timur. Jam besar pun masih tetap berada di sana, di atas tulisan JOGJAKARTA. Tak lelah jadi saksi pergiliran waktu hingga beberapa dekade lamanya. Namun kini, semua telah berubah. Stasiun Tugu seperti mall raksasa dengan kereta cepat yang menghubungkan dengan bandara di Kulonprogo sana. Pusat-pusat retail dan souvenir menggeser penjual gudeg maupun oleh-oleh khas yang dahulu meramaikan suasana stasiun kereta.

Ketika rindu dengan kampus kerakyatan, ternyata kampus UGM ini sudah berubah sedemikian rupa. Kini bangunannya begitu mewah dan hutannya perlahan musnah…

Masih ingat sekitar tahun 2009 silam, aku sering jalan kaki keliling kampus ini. Nuansanya teduh dan amat hijau. Para mahasiswa pun tak jarang yang bersepeda. Dengan dalih kampus educopolis yang ramah lingkungan, dulu pihak kampus menggalakkan penggunaan sepeda. Namun kini, lapangan GSP menjadi parkir mobil. Di bawahnya pun telah dibangun basement, juga untuk parkir. Hal yang paling mengejutkan adalah hutan kampus sudah tidak ada. Kampus kerakyatan di 2045 yang begitu aneh rasanya.

Dari kampus UGM, aku mencari angkringan murah yang selama ini melegenda. Nyatanya, benar bahwa angkringan sudah menjadi mitos belaka…

Di penghujung senja, antara lalu lalang dan kerlip lampu kota, belum kutemukan angkringan yang dulu sempat jadi frasa dalam pujian Joko Pinurbo kepada Jogja. Namun nyatanya, angkringan sudah tak hadir di semua tempat. Hanya dilokalisir di beberapa lokasi keramaian dengan harga restoran.

Konon sih, karena biaya hidup semakin mahal, bisnis angkringan pun bagaikan nasi kucing tanpa dikaretin, alias ambyar. Kini, angkringan hadir dalam bentuk yang lebih futuristik. Tidak menggunakan gerobak angkringan beroda dua seperti puluhan tahun lalu. Kini mereka hadir dengan mobil van dengan bagian belakang yang dijadikan etalase. Kadang-kadang VW Combi. Menunya pun tak se-otentik dulu, tak ada sate usus dan sate telur puyuh lagi. Katanya sih karena kolesterolnya tinggi.

Ketika bertemu sahabatku, dia bercerita bahwa tak ada anak muda yang mampu membeli rumah. UMR Jogja masih seperti dulu, hanya seperempatnya Jakarta. Namun harga tanah dan rumah makin gila…

Sewaktu aku kuliah di sana 30-an tahun lalu, harga tanah memang mulai mahal. Munculnya apartemen dan real estate makin menggila sejak 25 tahun terakhir. Harga tanah di pinggiran kota yang saat kuliah dulu hanya 1 juta per meter persegi, kini sudah 50 juta! Itu pinggiran lho ya.

Sewaktu harga tanah naik, warga Jogja ramai-ramai jual tanahnya. Alhasil kini orang Jakarta dan juga sebagian dari China yang menguasai. Di manapun, penjual tanah akan makin susah, sementara pembeli tanah akan makin kaya. Mempunyai tanah adalah simbol kemerdekaan dan mencegah ketimpangan yang makin parah.

Namun kini, selamat datang generasi pengontrak, yang hidupnya didikte oleh mekanisme pasar. Selamanya tak akan mampu membeli tanah kembali…

Kata kawanku tadi, warga Jogja asli banyak yang tinggal di rusun pinggiran kota. Masih lumayan harganya dalam jangkauan mereka.

Hal yang paling bikin sedih adalah, Merapi kini sudah hilang. Tenggelam dalam keangkuran gedung-gedung raksasa di Jogja. Metropolitan baru telah hadir, bernama New Jogjakarta!

Sejak pembangunan bandara baru di Kulonprogo berhasil dengan sukses, arus kehidupan di desa-desa mulai berubah. Selain harga tanah yang kian mahal, air pun makin susah didapatkan. Lebih-lebih setelah maraknya pembangunan di kawasan resapan Sleman. Daerah yang harusnya jadi penyimpan air sudah dikoyak-koyak oleh buldoser, demi hotel dengan panorama Merapi. Alhasil, Merapi kini ingkar janji. Dia memilih bersembunyi di balik gedung tinggi, enggan menyapa lagi.

Jogja 2045. Air makin kering dan sulit didapat. Udara makin polutif nan pekat.

Jogja tahun 2010-an telah berubah. Segalanya dan selama-lamanya. Tak ada istilah pulang dan angkringan lagi, namun rindu masih selalu terselip di hati. Bagiku, Jogjaku tetap Jogja yang sama. Ia tetap kota yang tumbuh sesuai usianya kehidupannya. Karena hidup sebenarnya sederhana saja, yang rumit cuma tafsirannya.

Dan, aku terbangun dari mimpi. Ini masih tahun 2017 ternyata.

Sumber; http://www.hipwee.com/travel/menerawang-kota-jogjakarta-di-tahun-2045-seperti-apa-perubahan-wajahnya/
loading...

Related Posts

0 comments:

Post a Comment