Makin Banyak Muslim yang Menemukan Jodohnya via Online. Benarkah Ini Bisa Jadi Solusi?

shares |


Tak bisa dipungkiri juga bahwa internet sudah membantu kehidupan manusia. Dari mencari resep ayam goreng sederhana sampai mengerjakan tugas akhirmu dalam perkuliahan, internet sudah jadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan manusia modern. Ternyata keberadaan internet juga sekarang bisa membantu banyak orang mencari jodoh. Pencarian jodoh yang dulu identik dengan kisah romantis akan pertemuan pertama, sekarang semakin banyak orang yang bertemu pasangannya pertama kali justru di dunia maya. Bukan berarti tidak bisa jadi romantis sih, tapi masih banyak sentimen negatif tentang pertemuan online.

Padahal di era dimana memanggil ojek maupun jasa bersih-bersih rumah saja sudah online, sebenarnya wajar saja sih kalau menemukan jodoh juga semakin ter-online-isasi. Tapi ya tetap harus berhati-hati. Nah beberapa waktu yang lalu Buzzfeed membuat ulasan menarik tentang tren ini. Meskipun popularitas tren ini berlaku secara umum, menurut temuan Buzzfeed komunitas yang makin banyak menemukan jodohnya online adalah orang-orang muslim. Terutama komunitas muslim di Eropa. Salah satu kisah yang diangkat adalah Harun Osmanovic dan Hamida Zaourgui yang memulai pertemuannya di Instagram. Harun yang berdarah Bosnia dan Hamida yang merupakan keturunan Aljazair ini, merupakan pasangan muslim beda negara yang menemukan cinta di dunia maya.

Di tengah kesulitan menemukan pasangan yang cocok di lingkungan sekitar, internet bisa jadi solusi. Kisah Harun dan Hamida hanya satu dari banyak kisah cinta serupa

Tak semua orang bisa menemukan pasangan dengan mudah. Nggak semua orang bisa menemukan kecocokan dengan mudah jika harus dihadapkan pada lawan jenisnya. Tengok saja lingkar pertemananmu. Pasti ada aja yang jomblo lama. Apalagi bagi muslim yang memang ada batasan untuk bergaul dengan lawan jenis. Bagi sebagian orang, internet ternyata bisa jadi jawaban untuk kebuntuan tersebut. Mereka yang kesulitan menemukan pasangan dalam lingkungannya, akhirnya banyak yang beralih ke komunitas online.

Kisah cinta Harun dan Hamida ini merupakan salah satu contohnya. Harun, seorang warga London keturunan Bosnia yang pada saat itu sedang bermukin di Polandia, jatuh cinta pada seorang gadis keturunan Aljazair yang tinggal di Perancis. Hah? Gimana-gimana? Kok bisa banyak sekali tempat asal, lokasi bermukim, sampai etnisitas yang berbeda-beda terlibat dalam pertemuan dua insan ini? Ternyata Instagram-lah yang bisa menjembatani semua perbedaan itu. Dari testimoni yang beredar di media sosial, tim Buzzfeed menemukan fakta bahwa ternyata makin banyak pasangan muslim Eropa yang bertemu dengan cara seperti ini.

Sebelumnya, pilihan jodoh mereka sangat terbatas dan banyak yang sudah ditentukan oleh orang tua. Sekarang tanpa harus dipusingkan jarak, mereka bisa memilih pasangan sesuai keyakinan dan hatinya

Kenapa tren ini berkembang terutama di kalangan muslim Eropa? Mungkin hal tersebut erat hubungannya dengan status minoritas mereka dalam masyarakat. Hidup sebagai pendatang atau minoritas memang banyak tantangannya. Tidak seperti di Indonesia yang mayoritasnya muslim hingga sesama muslim dengan mudah bisa bertemu di sekolah, mall, atau tempat publik lainnya.
Sementara di negara-negara Eropa, masjid mungkin jadi satu-satunya harapan untuk bertemu calon jodoh potensial. Maka dari itu biasanya orangtua jadi esktra waspada dan justru memilih 
menjodohkan anak-anaknya sedari kecil.

 Jadi meski negara-negaranya maju, praktik perjodohan di antara imigran muslim terhitung masih tinggi di Eropa. Nah generasi muslim muda yang ingin mencari jodohnya sendiri, sekarang memiliki pilihan lebih luas melalui media sosial. Generasi lebih tua juga tampaknya tidak keberatan karena anak-anaknya bisa menemukan pasangan sesuai keyakinan, meskipun terpisah jarak. Dinamika inilah yang terbilang cukup revolusioner.

Meski perjodohan online ini terbilang cukup diterima di kalangan muslim Eropa, ada perdebatan dalam konteks yang lebih besar: apakah hubungan online itu tidak menyalahi aturan agama

Harun dan Hamidah serta pasangan-pasangan lain dalam ulasan ini, membina hubungan mereka lewat media sosial karena terpisah jarak. Lewat Instagram, Skype, dan banyak platform media sosial lain, mereka bisa berbicara tiap hari. Kebanyakan dari mereka hanya beberapa kali bertatap muka. Tapi banyak juga dari mereka yang akhirnya bisa bersanding di pelaminan.

Kisah asmara modern seperti ini jelas berbeda dengan pola hubungan ala orangtua kita dulu. Banyak orangtua yang masih ekstra curiga bahkan protes keras jika kita bilang bertemu pacar lewat internet. Itu baru persepsi orangtua, belum lagi stigma negatif yang tersebar luas dalam masyarakat.

Nah bagaimana ya kalau dalam konteks agama, terutama agama islam. Ya seperti yang kita ketahui bersama, ajaran islam ‘kan tidak memperbolehkan pacaran tapi ada proses ta’aruf. Kira-kira tren baru yang berkembang ini bisa dimasukkan ke mana? Karena Hipwee bukan ahli agama, pertanyaan ini dilemparkan hanya untuk membuka diskusi dan pembahasan ke depannya. Gimana? Ada yang bisa bantu jawab?

Sumber; http://www.hipwee.com/feature/makin-banyak-muslim-yang-menemukan-jodohnya-via-online-benarkah-ini-bisa-jadi-solusi/
loading...

Related Posts

0 comments:

Post a Comment