Dapat Spotlight Internasional, 9 Film Indonesia Ini Justru Kurang Dikenal Warganya Sendiri. Kasihan

shares |

loading...
loading...

Dunia perfilman Indonesia sudah mengalami berbagai pasang surut hingga saat ini. Film-film asing memang masih mendominasi layar bioskop kita, tetapi peningkatan produksi film nasional beberapa tahun belakangan juga perlu diapresiasi. Iya sih plot ceritanya banyak yang mirip FTV dan pemainnya sepertinya itu-itu saja. Tapi paling tidak dari sejumlah produksi tersebut, ada lah beberapa film berkualitas yang patut dibanggakan. Namun sayang, film-film berkualitas itu justru seringnya dapat apresiasi dari luar dibandingkan di negeri sendiri. Bahkan film-film bermutu ini tidak jarang hanya sebentar mendapat jatah tayang di bioskop-bioskop. Entah kurang promosi atau masyarakat Indonesia memang tidak tertarik.

Maka dari itu dalam rangka memperingati Hari Film Nasional yang jatuh pada tanggal 30 Maret ini, Hipwee News & Feature ingin mengangkat beberapa film yang dapat penghargaan internasional tapi justru mungkin kurang dikenal oleh warga Indonesia sendiri. Miris ya 🙁

1. Tjoet Nja’ Dhien (1988)

Film Tjeot Nja’ Dhien adalah film Indonesia pertama yang mendapat kehormatan untuk diundang dan ditayangkan di salah satu film paling bergengsi di dunia, Cannes Film Festival. Film yang dibuat pada tahun 1988 ini merupakan salah satu karya terbaik dari aktris iconic Indonesia, Christine Hakim.

2. Daun di Atas Bantal (1998)

Pada tahun 1998, film besutan Garin Nugroho ini berhasil memenangkan penghargaan dalam Asia-Pacific Film Festival untuk kategori aktris dan film terbaik. Film yang mengisahkan betapa kerasnya hidup tiga anak jalanan ini juga diajukan sebagai perwakilan Indonesia dalam perayaan Oscar di tahun 1999.

3. Pasir Berbisik (2001)

Sama seperti film Daun di Atas Bantal, film Pasir Berbisik ini juga berhasil mendapat penghargaan dalam Asia-Pacific Film Festival. Kali ini film yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo dan Christine Hakim ini memenangi kategori sinematografi dan tata suara terbaik dalam festival film bergengsi di Asia tersebut.

4. Berbagi Suami (2006)

Film ini ‘membuka mata dunia’ pada kepiawaian Nia Dinata sebagai seorang sutradara. Nia Dinata memenangkan penghargaan sutradara terbaik dalam Brussel International Independent Film Festival pada tahun 2007 dan Halekulani Orchid Award dalam Hawaii International Film Festival di tahun 2006, lewat film ini.

5. Merantau (2009)

Dibandingkan The Raid maupun The Raid 2 yang meledak di mana-mana, film pertama Iko Uwais ini kurang mendapat exposure. Terutama di Indonesia. Film Merantau juga merupakan besutan sutradara The Raid dan The Raid 2, Gareth Evans. Film ini berhasil memenangkan Jury Award dalam Austin Fantastic Fest pada tahun 2009.

6. Sang Penari (2011)

Buat yang suka dengan kisah cinta mengharu biru ala Romeo and Juliet-nya Shakespear, harus lihat film Indonesia yang satu ini. Tentu saja selain kebudayaan Jawa yang kental, film ini mengisahkan cerita cinta yang begitu menyentuh. Disamping menyapu penghargaan di festival film Indonesia atau Citra Award, aktris utamanya Prisilia Nasution juga dinominasikan sebagai aktris terbaik dalam Asia-Pacific Film Festival pada tahun 2012.

7. Modus Anomali (2012)

Film thriller garapan sutradara Joko Anwar ini mendapatkan penghargaan khusus Bucheon Award dari Network of Asian Fantastic Film dan dinominasikan dalam SXSW Film Festival pada tahun 2012. Buat yang ngefans sama Rio Dewanto, film ini tidak boleh dilewatkan.

8. Jalanan (2013)

Film dokumenter ini banyak mendapat penghargaan festival internasional, tapi gaungnya sangat kecil di negerinya sendiri. Memenangkan 5 penghargaan internasional, dari Melbourne International Film Festival sampai Pusan International Film Festival, sutradara Daniel Ziv yang berasal dari Kanada berhasil mengangkat realita kehidupan jalanan Jakarta lewat karyanya ini.

9. Battle of Surabaya (2015)

Berhasil memenangkan International Movie Trailer Festival (IMTF) dan Golden Remi Award dalam WorldFest Houston, animasi yang mengisahkan peristiwa 10 November Surabaya ini merupakan terobosan terbaru dalam dunia perfilman dalam negeri. Meski ilustrator Indonesia sudah banyak yang go internasional dan bekerja di production house terkenal di luar, tapi film animasi yang sepenuhnya diproduksi oleh orang Indonesia masih jarang mendapat pengakuan. Battle of Surabaya ini adalah salah satu film animasi Indonesia yang patut dibanggakan.

Mungkin banyak yang belum tahu, namun ada sebuah peristiwa bersejarah yang harus kita rayakan hari ini. Tanggal 30 Maret di Indonesia diperingati sebagai Hari Film Nasional. Pada tanggal ini, tepatnya 30 Maret 1950 adalah hari dimana untuk pertamakalinya produksi film yang sepenuhnya dibuat oleh sineas asli Indonesia dimulai. Meski masih banyak ruang untuk peningkatan, tapi tenyata banyak juga pencapaian sineas perfilman Indonesia. Nah kalau ada kesempatan menonton film-film di atas dalam festival film lokal atau mungkin kamu bisa mendapatkan DVD-nya, tonton lah supaya tahu kualitas mumpuni dari film Indonesia.

Sumber; http://www.hipwee.com/feature/dapat-spotlight-internasional-9-film-indonesia-ini-justru-kurang-dikenal-warganya-sendiri-kasihan/
loading...

Related Posts

0 comments:

Post a Comment